Kerja Keras adalah Energi Kita

Begitulah slogan dari salah satu Perusahaan Minyak Nasional, Pertamina.

Pertamina sebagai salah satu BUMN terbesar di Indonesia telah menjadi sorotan publik sejak lama.

Kinerja Pertamina dipertanyakan menyusul disebutkan kerugian dari perusahaan minyak tersebut.

Ada apa dengan Pertamina?.

Dahulu waktu saya kecil banyak orang bercita-cita menjadi pegawai Pertamina, pekerjaan mudah gaji besar.

Kemudian ketika memasuki dunia kerja saya sempat terjun dalam dunia perminyakan. Atas takdir Allah saya bekerja di perusahaan Oil Service Asing, Schlumberger sampai dengan September 2009 ini (kemudian saya keluar dengan alasan melanjutkan jenjang ekstensi S1).

Ada banyak pelajaran yang saya ambil khususnya ketika bekerja dengan sesama perusahaan Nasional Indonesia.

Pernah suatu waktu teman saya bercerita bahwa ketika dia KP (kerja praktek) di salah satu unit usaha Pertamina di Indramayu dia berseloroh “Wah enak kerja di Pertamina, gaji jutaan kerjaan main game di komputer”.

Kemudian banyak omongan senada yang datang dari beberapa rekan saya menilai Pertamina.

Beberapa cerita teman-teman tersebut kebanyakan memang berasal dari unit usaha milik Pertamina pada bagian produksi/distribusi. Nah kalau saya punya cerita di bagian eksplorasi.

Waktu itu sekitar November 2007 ketika itu saya bertepatan mendapat tugas lapangan di daerah Cepu. Yang menjadi klien adalah Mobil Cepu dan Pertamina.

Awal mula saya mendatangi Mobil Cepu, melihat rig (baca: sumur minyak) yang diklaim terbesar di Indonesia. Kesan saya disana bahwa perusahaan ini benar-benar teratur dengan tingkat disiplin yang tinggi dimana seolah-olah setiap detik memang bernilai.

Kemudian selanjutnya adalah mengunjungi Pertamina, seperti terbalik 180 derajat keadaanya memang lain.

  • Komplek rig yang digunakan tidak dipagar dengan rapat sehingga keamanan tidak terjamin.
  • Penataan peralatan yang tidak rapi sehingga pekerjaan tidak efesien.
  • Perhatian terhadap keselamatan kerja yang kurang. Standard keselamatan kerja seolah hanya hitam di atas putih.
  • Penghargaan terhadap waktu yang kurang, pekerjaan berjalan lambat asal selamat.
  • Toleransi yang berlebihan sehingga menciptakan kinerja yang tidak maksimal.

Saya sempat merenung dan berpikir ‘Salah siapa ini?’.

Dan jika saya mencoba mencari jawaban itu ‘Bukan pada Pertamina, tapi pada kita, masyarakat Indonesia’.

Ketika banyak ormas/partai berkoar-koar ‘Jangan jual sumur minyak kita kepada negara asing’.

Maka akan saya jawab ’siapa yang menjamin produksi bisa maksimal (tidak dikorup oleh warga Indonesia)’

Maksud dikorup disini bukan berarti hanya oleh oknum yang biasa dikambing-hitamkan adalah pejabat tapi juga oleh yang berada pada bagian paling bawah sekalipun.

  • Kuli pengebor yang korupsi waktu
  • Pengunaan bahan-bahan bekas (reforbish) pada peralatan padahal anggaran untuk barang baru
  • Pemilihan kontraktor yang kental nepotisme
  • Dan masih banyak lagi yang lain

Waktu terus berjalan dan alhamdulillah saya melihat ada upaya perbaikan.

Semboyan Kerja Keras adalah Energi Kita memang tepat karena untuk mewujudkan kesuksesan butuh kerja keras bukan main-main.

Tags:

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>